<aside> <img src="/icons/orbit_purple.svg" alt="/icons/orbit_purple.svg" width="40px" /> “Just like moons and like sun, with the certainty of tides, just like hopes springing high, still I’ll rise.” — Maya Angelou.
</aside>
—
JANITRA never realized just how powerful she is. Bapak dan ibunya tidak pernah menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu dan menjabarkan tentang semua koneksi ataupun usaha yang kakeknya miliki, tidak pernah memberikannya aba-aba tentang melanjutkan usaha kakeknya, tidak pernah memberikan tekanan untuk mengetahui apa yang ia inginkan sebelum ia dapat bersenang-senang dan menemukan jati dirinya sendiri. Ia mengerti bahwa nama belakangnya memberikannya banyak beban yang harus ia pikul–whether her parents liked to admit that or not–tetapi ia tidak pernah benar-benar merasakannya.
Toh, ia juga masih dapat belajar dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Ia masih diperbolehkan membuat kesalahan, masih dibiarkan menekuni hobi yang ia sukai–surfing, boxing, pottery–dan seperti kebanyakan remaja seumurannya: pulang malam tanpa meminta izin meskipun ia tahu konsekuensinya adalah ceramahan panjang di jam 3 pagi yang diberikan oleh bapaknya. Kedua orang-tuanya tidak pernah membedakannya–she can be whoever she wanted.
Until she couldn’t.
Ia tahu kedua orang-tuanya sebisa mungkin selalu mencoba untuk menjauhkannya dari realita yang ada–mencoba untuk menunda-nunda membicarakan tentang bisnis dan masa depannya. Tapi Janitra tidak bodoh, ia tahu ia sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang besar dengan tanggung jawab yang tidak kalah besar–ia menyadari itu ketika ia masih kecil.
Misalnya: setiap mereka ingin berlibur bersama, mereka harus memesan tiket pesawat di jam terbang yang berbeda-beda. Bapaknya akan terbang lebih awal lalu ia akan terbang bersama ibunya beberapa jam setelah itu. Meskipun itu sesederhana liburan kecil di akhir pekan untuk bertemu teman-temannya dan mengecek situasi di shelter Bali–mereka bertiga tidak pernah boleh berada di satu penerbangan yang sama.
Atau kalau misalnya ia harus mengikuti kegiatan sekolah di luar kota: kakeknya akan selalu mengirim beberapa orang suruhannya untuk memeriksa keadaan di tempat sebelum Janitra diperbolehkan untuk mendaftarkan diri. Hal itu tidak pernah ia ambil pusing ketika ia masih kecil dan berumur di bawah sepuluh tahun, tapi ketika ia mulai tumbuh besar dan menyadari betapa riwehnya semua prosedur itu, ia mencoba untuk menawar dengan kakeknya. (Yang pada akhirnya mengerti bahwa yang Janitra inginkan–lebih dari apapun–adalah privasi).
Kedua orang-tuanya selalu menjauhkan dirinya setiap obrolan tentang penerus bisnis diangkat di meja makan. Bapaknya akan menaruh alat makannya di sebelah piring, menatap kakeknya yang duduk di ujung meja, “Ini nggak bisa diomongin nanti aja, Pak?”
Ibunya akan menaruh satu tangan di atas paha Janitra–sebuah upaya untuk menenangkan anaknya yang menurut Janitra sebetulnya adalah upaya untuk menenangkan dirinya sendiri. Obrolan itu tidak pernah ia dengar secara menyeluruh; atau jika ia pernah mendengarnya, ia mungkin terlalu kecil untuk mengingatnya. Tapi setiap kali topik itu disenggol atau terlihat akan mulai didiskusikan, bapaknya akan selalu mencoba untuk menguburnya.
Again: Janitra is not stupid, she knows that in order to keep the family business in the family, she has to be the one who takes over it.
Semua asumsinya akhirnya benar-benar diperkuat ketika ia diam-diam mendengar percakapan di antara bapaknya, kakeknya dan budenya saat ulang tahunnya yang ke-16.
“Kamu tau harus Nitra yang melanjutkan, le, there’s no other option.” Suara kakeknya terdengar serius. Sama sekali tidak seperti intonasi yang ia gunakan setiap ia mengobrol santai dengan cucunya satu-satunya di halaman belakang setiap sore. Sama sekali tidak seperti intonasi yang ia gunakan setiap mereka makan keluarga bersama. Sama sekali bukan suara kakeknya–tapi suara Bapak Banyu Maharaja, mantan Presiden Komisioner Raja Tembakau.
Dari sela-sela pintu, Janitra dapat melihat bapaknya berdiri di sebelah jendela, tangan kanannya menggenggam gelas air putih yang sudah setengah habis. Rambut hitamnya sudah mulai memutih di beberapa tempat, kerutan di sebelah matanya sudah mulai bertambah banyak. Ekspresi bapaknya tidak dapat ia baca.
“But she’s too young to have that sort of burden on her,” bapaknya menjawab—tenang, penuh pertimbangan; seperti percakapan tersebut sudah terjadi ribuan kali di dalam kepalanya. (Dan mungkin sudah.)
“It’s unfair on her, Pak.” Kali ini budenya yang beropini. “Nitra harusnya dapat memilih apa yang ia mau tekuni, buat apa ngasih ini ke dia kalau dia nggak mau?”
“Emang Nitra pernah bilang dia nggak mau?” tanya kakeknya, sebuah pertanyaan yang tulus tapi tetap terdengar seperti sebuah ancaman.
Janitra mengerti kakeknya adalah seorang pengusaha—ia mengerti ia datang dari garis suksesi pengusaha yang panjang. Ia tidak membutuhkan penjelasan kedua orang tuanya untuk tahu bahwa bahkan sebelum ia dilahirkan di dunia, ia sudah ditakdirkan untuk melanjutkan sesuatu yang sudah berdiri jauh sebelum kedua orang tuanya bertemu. Tapi selama ini ia mendapatkan kesan bahwa ia berhak memilih, berhak untuk mengiyakan atau menolak keinginan kakeknya untuk dirinya melanjutkan perusahaan itu.
“Kulo (saya) yang ndak memperbolehkan, Pak,” bapaknya menjawab.
Janitra membenarkan posisinya mengintip, pintu yang dibuat dari kayu itu tidak memberikannya banyak sela untuk menatap tiga orang yang sedang berunding di dalam ruangan yang besar itu.