Emotions are confusing, I learned. Setelah kehilangan tunangan yang sekaligus cinta gue satu-satunya, gue udah siap-siap sakit hati berkepanjangan. Gue pernah ngeliat nenek gue pas kehilangan kakek gue kayak gimana, ngeliat tubuhnya yang udah tua dan rentan menghadapi kehilangan itu, ngeliat kesehatannya pelan-pelan menurun. I saw what it did to her, how difficult it was for her to get over it. Bokap gue setengah menebak bahwa nenek gue akan lebih dulu meninggal sebelum dia bisa berhasil melepaskan kakek gue dan ternyata dia bener.

Konon katanya kalo seorang pasangan meninggal, yang hidup akan cepat menyusul. Apakah gue berharap gue bakal nyusul Mikha? Engga juga. Tapi apakan gue rasa bahwa hal itu engga bisa dihindari? Sedikit.

Tapi gue di sini, setahun setelah kematiannya, di London. Berdiri di depan hotel yang gue inapi sama sahabat (slash musuh) gue, menyesap teh panas dari tumblr yang gue beli di Starbucks, Florence. Gue di sini, setahun setelah kematian dia dan gue masih hidup. Well, physically, but I think I’ve died emotionally a few times.

Kenapa emosi membingungkan? Karena gue kira gue bakal sedih terus-terusan; ngurung diri di dalam kamar, engga bisa bersosialisasi sama siapa-siapa, nangisin Mikha 24 jam per-harinya. Tapi kenyataannya, gue cuman nangis 2 hari pertama dan setelah itu gue udah jalan ke Kedutaan Besar Italia buat bikin visa terus nyari apartemen di Florence terus dateng setiap hari ke kuburan Mikha. Gue engga tau gue lagi pura-pura tegar atau gue emang kuat.

Gue ngabisin setahun terakhir di Florence, setiap langkah yang gue ambil di kota cantik itu selalu ngingetin gue ke Mikha. But somehow, it felt bearable. I felt invincible. Gue engga punya temen buat cerita dan satu-satunya orang yang gue bisa ajak ngomongin tentang Mikha adalah adeknya sendiri. I’m not sure if my coping mechanisms have been healthy this past year but Mikha’s always been the health freak between us, not me.

I don’t think it’s healthy because here I am, in London, with a friend I haven’t talked to in years with the elephant in the room yet to be addressed. Beberapa saat setelah itu, laki-laki itu keluar dari lobi hotel, lengkap dengan coat item dia dan rambut dia yang udah mulai panjang. Dia nyisir rambutnya yang ketiup angin dengan pelan-pelan, matanya nyari gue di tengah keramaian jalan.

There’s a gentleness ever present in Maravaggio Tanadi, bahkan ketika gue baru pertama ketemu dia dulu pas gue lari keluar dari kelas, air mata ngalir deras di muka gue, dia nanyain, dengan raut wajah yang peduli, gue kenapa. Interaksi pertama kita engga terlalu lama karena akhirnya gue harus balik ke kelas dan pura-pura keliatan biasa-biasa aja di depan dosen yang barusan bikin gue mikir 2 kali tentang pilihan gue. Tapi interaksi itu cukup, interaksi itu kecil itu udah cukup buat ngasih tau gue kalo gue menginginkan seseorang kayak dia di dalam idup gue.

Bahkan sekarang, 10 tahun setelah pertemuan pertama kita, gue masih ngeliat kehadiran kelembutan itu di dalam dirinya. Even after years of constant criticism towards his arts, after a million times being knocked down by life, after years of having to constantly look into the most traumatizing parts of his life to find inspiration for his next work, he still has the same kind of gentleness and genuineness in him. Padahal gue sendiri ngerasa gue udah kehilangan banyak bagian dari diri gue.

Ketika mata kita ketemu, dia langsung keliatan lebih lega – kedua bahunya yang tadinya keliatan kaku sekarang melemas, rahangnya juga – dan dia menghampiri gue. Di tangan kanannya ada 1 bungkus rokok yang belum kebuka, masih disegel rapih di dalam plastik. Sejak dia berhenti mengonsumsi barang-barang ilegal – long nights, the anxiety of never being good enough, the looming fear that our parents invested thousands of pounds for nothing – dia mulai ngerokok. Dan terbang ke belahan dunia lain buat nyari (mantan) sahabatnya engga akan menghentikan dia dari ngerokok.

“Udah lama?” Dia nanya sambil memasukkan bungkus rokoknya ke dalem kantong jaket yang dia pake.

Gue menggeleng, “Barusan banget, itu kenapa engga jadi ngerokok?”

Gio mengedikkan bahunya, “Lo udah engga ngerokok juga, gue engga enak.”

“Padahal santai aja.”

“Buat gue engga.” Jawabnya, matanya ngeliatin ke depan, engga ke gue sama sekali. “It’s not fun smoking on my own.

Why not?

Dunno, kebiasaan ngerokok kalo emang bareng sama orang ngerokok aja. This feels weird.

Dulu – pas kita masih temenan – gue suka duduk di dalem studio Gio yang ada di deket rumahnya, sesekali ngasih masukkan ke dia kalo misalnya konsep dia keliatan terlalu abstrak atau mainstream buat dilirik sama orang-orang penting, dia engga bakal bisa berenti ngerokok kalo lagi ngelukis. Satu puntung harus selalu ada di dalem mulutnya, kedua tangannya udah kotor dari cat-cat, bajunya udah engga ada wujudnya dan rambutnya awul-awulan tapi rokok itu bakal selalu putih bersih. Kadang gue suka bercandain kalo dia sayang rokok itu lebih dari dia sayang dirinya ataupun karya-karyanya dan dia cuman ketawain gue doang.

I think there’s a truth in my statement somewhere.

Tapi sekarang dia udah berhasil lepas dari rokok – semi – dan ada kebanggaan tersendiri dari dalem diri gue.

See, emotions are confusing. Because 2 weeks ago I didn’t want anything to do with Maravaggio Tanadi; I wouldn’t want him to chase me down to Florence, I wouldn’t want him near me after what he said to me. But today, there’s a feeling of relief inside of me when I saw him pocket his cigarettes because it meant I had 11 more minutes with him that I otherwise would have lost had he smoked that cigarette.