Patung David yang dipahat oleh Michaelangelo berada di Accademia Gallery di Florence. David adalah patung Renaisans yang dibuat dari marmer antara tahun 1501 dan 1504 oleh Michaelangelo. Patung di depan gue ini menjulang setinggi 5,17-meter dan dimodelkan setelah David – seorang figur Alkitab yang menjadi favorit di Kota Florence. Gue pertama kali tau karya Michaelangelo pas kedua orang-tua gue ngajak ke Vatikan dan gue, seorang bocah berumur 6 tahun pada saat itu, mendongak buat ngeliat langit-langit katedral itu yang menceritakan tentang insiden dan tokoh-tokoh dari Perjanjian Lama.

Gue menatap setiap detail yang ada di patung itu, nyoba buat nyari detail-detail kecil yang mungkin pernah gue lewatin, nyoba buat ngerti gimana caranya seseorang bisa punya talenta sebesar itu pada jaman dahulu. Gue aja yang udah sekolah selama 3 tahun, jarang tidur, dimaki-maki dosen dan sering trial-and-error belum bisa bikin sebuah mahakarya yang secantik patung di depan gue ini. Kadang gue bakal jalan-jalan ke area lain di gallery ini, sesekali ngobrol sama beberapa turis ataupun jadi fotografer mereka tapi akhirnya gue bakal balik lagi ke ruangan ini – kayak pahatan di depan gue adalah pusat gravitasi untuk diri gue seorang.

Dan meskipun sampe sekarang – hampir 9 tahun setelah gue lulus dari sekolah seni – gue masih engga bisa melukis sepandai seorang Michaelangelo, lukisan itu masih menjadi salah satu lukisan favorit gue. Sebetulnya seniman asli Italia itu bakal selalu menjadi seniman favorit gue makanya gue di sini, di Florence, menatap patung tinggi itu selama keseratus kalinya dalam 11 bulan terakhir – mencoba untuk mencari tujuan hidup baru setelah gue ditinggalin sama Mikha.

Mungkin karena emang ini satu-satunya stabilitas gue untuk saat ini – sebuah patung yang dibuat kurang lebih 500 tahun yang lalu oleh seorang seniman dengan nama yang hampir sama dengan tunangan gue yang pergi ninggalin gue sendirian di dunia tanpa mengucapkan selamat tinggal. Pertama kali gue ketemu cowo itu, gue tertarik bukan karena dia tinggi atau karena dia selalu ngangkat tangannya setiap guru di depan kelas nanya, bukan juga karena dia ketua tim basket.

Tapi karena namanya ngingetin gue sama seniman favorit gue.

So maybe that’s why I’m here. Because I’ve lost my Michael – it’s good to know that the art world hasn’t lost theirs.

Ketika gue udah mulai ngerasa kedua lutut gue pegel karena berdiri terlalu lama, ada suara familier dari sebelah kanan yang bikin gue sontak menatap sumbernya, “Staring at it won’t make him come alive.

Maravaggio Tanadi, lebih sering dipanggil Gio karena nama depannya terlalu panjang dan sulit untuk dilafalkan dengan satu kali nafas, berdiri di sebelah gue. Kali ini rambutnya masih panjang, menutupi lehernya dan mulai keliatan halus – dia mulai ngerawat dirinya lagi. Tulang pipinya yang biasanya terlalu menonjol kali ini udah mulai engga terlalu keliatan dan di bawah sinar matahari Florence yang kuning – meskipun suhu udara masih sekitar 5 derajat celcius – dia keliatan kayak lagi bersinar. Dia masih pake mantel kesukaannya dari pas kita masih kuliah dulu dan dia makenya di atas flannel merah punya dia. Kedua tangannya dia masukkin ke dalem saku jaket yang dia pake, shielding them from the cold.

David or Michaelangelo?” Tanya gue.

Sahabat gue – atau lebih tepatnya sekarang, mantan sahabat gue – itu masih ngeliatin patung yang berdiri di depan kita, matanya fokus ke kepalanya yang gede dan jauh di atas sana, “Both.

I wish he would though,” gue memulai, “come alive.

“Siapa?”

“Michael.” Gue menjawab dengan pelan-pelan – pernyataan itu lebih kedengeran kayak sebuah bisikkan daripada omongan. Tapi cowo di sebelah gue itu denger dan yang dia ngelakuin cuman ngangguk, ngebiarin ada sebuah keheningan di antara kita selama beberapa detik.

Gio ngeliat ke arah gue – gue bisa ngerasain matanya menatap sisi kanan muka gue – sebelum ngomong lagi, “Our Michael?”

“Iya, Mikha kita.”

James, Jason dan Bryan kenal Mikha sama lamanya dengan Gio kenal Mikha tapi mereka engga kenal Mikha sebaik itu. Sure, James emang satu kampus dulu sama dia, satu apartemen, satu temen nongkrong kalo lagi belajar di perpustakaan KCL tapi mereka lebih sering ngomongin topik-topik formal kayak bisnis dan saham dan ekonomi berbagai negara. Sementara Gio dan Mikha? Gue rasa persahabatan mereka lebih personal, lebih dalem – lebih sering ngomongin tentang masalah-masalah sehari-hari kayak apa rasanya jadi anak sulung (Mikha) atau apa rasanya jadi anak tunggal (Gio).

Jadi pas gue dan Gio berantem 5 tahun silam, kita engga nyuruh Mikha buat milih sisi. Dia orang yang paling bisa objektif di antara kita bertiga. He knew the issue, he thought it was a little silly but he understood our points of view nevertheless. Dia ngerti kita. Mikha adalah orang yang paling ngerti gue dan gue rasa Gio ngerasain hal yang sama. Jadi pas dia engga ada, gue dan cowo di sebelah gue hampir merasa kehilangan yang sama. Bedanya, Gio pas itu engga bakal nikahin cowo itu setahun setelahnya – that’d be me.

Tapi selain Mikha, orang yang paling ngerti semua masalah gue, semua kesedihan gue, semua kekesalan gue, semua ambisi gue… ya Maravaggio. Karena sejak pertama kali gue ketemu dia di studio CSM, gue ngerasa gue bisa percaya ke dia seutuhnya tapi setelah perselisihan kecil kami 5 tahun silam, kita berdua udah engga pernah cerita-cerita lagi – akhir-akhirannya kalo ada keluh-kesah kita bakal ke Mikha.

But he’s gone. And I guess Gio’s trying to find someone who can understand him completely once again. Dan siapa lagi kalo bukan gue yang bisa ngertiin dia?

“Udah setahun.” Gue membuka percakapan lagi, akhirnya ngeliat ke arah dia – ke lingkaran hitam di bawah matanya, ke bibirnya yang pecah-pecah karena dinginnya udara Florence siang ini, ke dahinya yang berkerut karena dia lagi mikir (kayaknya). “He’s been gone for a year.